Tampilkan postingan dengan label Budidaya Katak Lembu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Katak Lembu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Januari 2013

Budidaya Katak Lembu

Di jagat maya, nama Hendro Setiawan (61) dikenal sebagai peternak katak lembu asal Desa Sumberejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Namun begitu dilacak ke desanya, nama Hendro ternyata tak dikenal. Maklum saja dia memang dikenal sebagai Yasin, peternak katak lembu yang sukses.

Tak populernya nama Hendro menyulitkan pencarian rumah laki-laki itu. Padahal lokasinya di tepi jalan besar, jurusan Kediri – Blitar lewat RS Baptis. Bangunannya pun cukup besar, mirip ruko dengan pintu warna biru. “Ruko” tersebut memang jarang sekali dibuka, tamu atau pemiliknya biasa keluar masuk lewat pintu samping.

Begitu terus masuk ke belakang rumah, langsung terlihat kolam-kolam berbagai ukuran, lengkap dengan atapnya dan dari kejauhan terdengar katak mengorek (bersuara) nyaring. Ya, kolam-kolam itu adalah kolam pembudidayaan bullfrog, atau yang akrab disebut katak lembu karena suaranya seperti suara lembu.

Amphibi bernama Latin Rana catesbeiana dan diyakini berasal dari Afrika - beberapa sumber mengatakan berasal dari Sungai Mississippi dekat wilayah Kanada - itu sejatinya tak jauh beda dengan kodok ijo yang banyak ditemui di sawah di pedalaman Jawa, namun ukuran tubuhnya lebih besar. Bahkan, ukurannya bisa 2 kali lipat kodok ijo.

Kata Hendro alias Yasin, katak berukuran jumbo tapi tampak gesit di dalam kolam itu jumlahnya mencapai 10 ribuan, sebagian sudah siap dilempar ke pasar dan sebagian lain masih menunggu satu atau dua minggu lagi untuk dipanen. Katak yang siap dipasarkan, kata dia, rata-rata berusia 7-8 bulan.

Katak yang siap dipanen dan dipasarkan, kata pria yang memulai budidaya katak lembu sejak 2002 ini, rata-rata beratnya 2,5 ons atau berisi 4 ekor per kilogram. Harga di tingkat peternak, Rp 20 ribu per kilogram. “Kemudian saya menjual ke sejumlah restoran di Surabaya, satu kilogramnya seharga Rp 25 ribu,” kata Hendro yang juga bertindak sebagai pengepul katak lembu.

Dia lantas mengaku, memasok 14 restoran di Surabaya yang memesan katak satu minggu sekali. Pasokan katak itu bukan hanya dari peternakan Hendro saja tapi tapi juga dari peternak lain. Di Kediri sekarang ada 5 peternak, di Pare 2 peternak, serta beberapa lainnya yang tersebar di Blitar, Tulungagung, dan sekitarnya.

“Mereka ini rata-rata setor hasil panenan ke saya dan kemudian saya yang kirim ke Surabaya. Setiap pekanya kami rata-rata bisa mengirim enam kuintal. Kalau pas hari baik atau hari besar China, permintaan dapat melonjak dua kali lipat,” jelasnya.

Hendro melanjutkan, para peternak ini sudah menjalin kerjasama sejak lama. Awalnya, mereka belajar beternak katak lembu kepada dirinya sampai bisa. Dia pula yang memasok bibit (kecebong atau percil) untuk mereka dan mengepul hasil panenan mereka.

“Kalau panen tidak banyak, mereka merasa rugi kalau harus mengirim sendiri ke Surabaya. Ongkos kirim dan tenaga dinilai tidak nyucuk (malah tidak menghasilkan). Karena itu mereka lebih suka kirim ke saya, jarak tempuh angkutannya dekat, meski harga jualnya terpaut Rp 5 ribu (lebih murah),” tambahnya.

Ceruk pasar katak lembu di Surabaya, imbuh pria yang juga berprofesi sebagai pemborong bangunan ini masih cukup luas. Namun dia dan rekan-rekannya baru bisa melayani rata-rata 6 kuintal per pekan. Penyebabnya, hasil peternakan di Kota Kediri dan sekitarnya masih terbatas. “Untuk Surabaya saja kurang padahal permintaan dari kota-kota lain di luar Surabaya juga cukup banyak.”

Bagi Hendro, beternak katak lembu adalah pekerjaan gampang-gampang susah. Kuncinya, telaten dan sabar. Kalau beternak mulai dari kecebong (anak katak yang masih berekor), panennya 8 bulan kemudian. Tapi, kalau mulainya dari percil (anak katak yang tidak berekor), dalam waktu 7 bulan sudah bisa panen. “Malah, kalau percilnya sudah besar atau usia 2 bulan, bisa panen 6 bulan kemudian,” katanya.

Katak indukan, lanjutnya, sekali bertelur bisa mencapai 10 ribu - 20 ribu butir. Telur yang masih lembut itu kemudian dipindahkan ke kolam tersendiri. Setelah menjadi kecebong dan menjadi percil, dipindah ke kolam lain yang berair dangkal.

Meski usia telur sama namun setelah menjadi percil dan katak, besarnya tidak sama. Katak-katak itu harus dipisahkan, yang besar-besar dikumpulkan dalam satu kolam tersendiri, demikian pula yang kecil-kecil. Itu untuk mencegah kanibalisme, perilaku alami katak lembu.

Hendro mengaku, dia pernah berupaya menularkan ilmu beternak katak lembu ke tetangganya, di Desa Sumberejo. Ada 2 warga yang berminat. Mereka belajar darinya, mulai dari pembuatan kolam, saluran air, memelihara kecebong, percil, hingga katak dewasa. Bahkan masalah pakan dan obat-obatan juga diajarkan.

Semula, usaha katak lembu mereka berjalan lancar. Nah, begitu melihat peluang yang menggiurkan, 2 murid Hendro itu menjadi terburu nafsu. Mereka langsung membuat lahan yang lebih besar dan menanam bibit lebih banyak dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. “Memang wajar, saya juga pernah seperti itu,” katanya.

Namun begitu katak terserang penyakit mata putih (semacam katarak) dan kaki merah, 2 murid Hendro itu pun kelabakan. Apalagi serangan penyakit itu cepat sekali menular bila tidak segera diketahui dan ditangani - dipisahkan antara katak sehat dengan yang sudah terserang penyakit. Akhirnya, ternak katak 2 murid Hendro itu ludes tak tersisa sehingga mereka rugi besar. “Sekarang mereka kapok, tidak berani lagi beternak katak lembu,” ungkap Hendro.

Hendro sendiri pernah tersandung masalah serupa. Pada 2004 dia mengalami puso (gagal panen). Saat itu ternak katak lembunya terserang penyakit hingga ribuan yang mati. Hendro merugi puluhan juta rupiah.

Meski demikian, dia masih sempat menyelamatkan sebagian kecil katak lembu yang sudah siap panen berkat gencarnya pengobatan. Begitu katak-katak dewasa itu sembuh, langsung terjual habis sehingga dia tidak memiliki katak yang siap panen.

Yang dia miliki hanya bibit katak lembu berupa kecebong, jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor. Jelas butuh waktu cukup lama untuk bisa panen, paling tidak 8 bulan. Namun, dasar sudah menjadi rezekinya, tiba-tiba kawannya di Pare mengontaknya dan mengatakan butuh percil dalam jumlah banyak untuk memasok Dinas Perikanan Bali yang tengah menggelar program budiadya katak lembu.

Tanpa pikir panjang Hendro menyanggupi permintaan itu. Apalagi harga yang ditawarkan temannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga umum. “Dari percil itu saja saat itu, hasilnya bisa menyamai pendapatan panen raya,” kenang Hendro sambil tertawa.

Dia lantas mengungkapkan, kegagalan beternak katak lembu sering disebabkan karena kurang perhatian akan perliku kanibalisme itu. “Hama” lain yang juga banyak merugikan, imbuh Hendro, adalah kucing. “Satu kucing bisa memakan satu katak per hari, nah, kalau setiap hari kecolongan, hitung sendiri sebulan sudah rugi berapa,” terangnya.

Peristiwa gagal panen itu ternyata membawa hikmah tersendiri. Setelah punya pengalaman memasok bibit, kini Hendro jadi punya penghasilan sampingan dari menjual bibit katak lembu. Sekarang ini, harga seekor kecebong berumur satu bulan, Rp 100/ekor; percil usia 2-3 bulan harganya Rp 1.000/ekor.

Para peternak lain katak lembu yang sudah menjadi langganannya, rata-rata mengambil 1.000-3.000 ekor bibit. “Dari 1.000 ekor kecebong kalau bisa panen 300 ekor saja, sudah untung. Itu sudah dipotong biaya produksi. Apalagi kalau hidup semua,” pungkas Hendro.

Sumber :
http://biotani.blogspot.com/2011/08/budi-daya-katak-lembu.html ;!-- End: http:// / -->

Jumat, 04 Januari 2013

Cara Beternak Katak Lembu

Kriteria lokasi cara beternak katak lembu
Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok yaitu 1600 dpl.
Tanah tidak sangat miring tetapi dan tidak sangat datar, kemiringan ideal 1-5%, artinya didalam jarak 100 m jarak kemiringan pada ujung-ujungnya 1-5 m.
Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur ada selama hidup. air yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.
Kodok dapat hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat c. suhu waktu penetasan telur adalah anata 24–27 derajat c, dengan kelembapan 60–65%.
Air mengandung oksigen lebih kurang 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm. karbondioksida terlarut tidak kian lebih 25 ppm.
Dekat dengan sumber air dan diusahakan air dapat masuk dan keluar dengan lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.

Persiapan fasilitas dan peralatan kolam.
Di dalam proses pembuatan kolam menurut cara beternak katak lembu, tidak bisa cuma menggali atau menimbun saja tetapi kudu memadukan keduanya hingga akan memperoleh wujud dan konstruksi kolam yang ideal. Buat memasukkan air ke dalam kolam dibutuhkan saluran yang konstruksinya dibikin dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat dengan semen dan pasir. Wujud dari saluran ini umumnya trapesium terbalik dan pada lebih dari satu area pemasukan air ke kolam dibikin kobakan kecil untuk menjebak air supaya gampang masuk kedalam kolam-kolam. Kolam yang dibutuhkan diantaranya : kolam perawatan kodok, kolam penampungan induk sebelum saat dikawinkan, kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam pembesaran kodok remaja. keperluan kolam ini masih ditambah dengan kolam pemeliharaan calon induk.

Kolam perawatan kodok.
Luasnya 15 meter persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding tembok 0, 40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi 10-15 cm dan 1/3 bagian kering.

Kolam pemijahan.
Kolam dibikin dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman air di kolam ini lebih kurang 0, 30–0, 40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan. Padat pemeliharaan 15 ekor tiap-tiap meter perseginya, dengan perbandingan tiga betina dan satu jantan. Agar lebih nyaman, baiknya lantai daratan sedang tidak berlumpur, dan kolam ditanami enceng gondok. Siapkan makanan berbentuk ikan kecil, ketam dan bekicot waktu kawin ditandai dengan nada merdu. tidak lama lantas, telur mereka mengambang di air kolam dan selekasnya dipindahkan ke kolam penetasan.

Kolam penetasan.
Kolam penetasan dibikin lebih dari satu buah, dari tembok dengan air sedalam 30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. luas kolam semuanya 10 m².

Kolam kecebong.
Terdiri dari lebih dari satu kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5 m² – 6 m², dengan basic lantai terbuat dari semen.

Kolam kodok muda
Di kolam ini kodok yang dipelihara berusia kurang dari 2 bln.. dibikin lebih dari satu buah dengan masing-masing luasnya 15 m², dengan dinding tembok dan kawat. Lantai miring dengan tempat air 1/3 bagian dengan kedalaman 15–35 cm.

Kolam kodok dewasa.
Pada kolam ini kodok telah berumur pada 2–6 bln.. kolam yang dibutuhkan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m², dengan konstruksi basic dan dindng tembok dan kawat. Kedalaman air yang dibutuhkan pada 30–40 cm.

Menyiapkan kolam produksi

Sistem pemijahan dengan alami.
Induk jantan dan betina yang sudah dipisah sepanjang 1-2 hari dikumpulkan di kolam pemijahan. Ikan liar bisa mengganggu hasil pemijahan. Lihat supaya telur kodok tidak turut terbuang air pembuangan. Di sore atau pagi hari pada waktu suhu mulai menurun, barulah kita butuh menolong kelancaran proses pemijahan, yakni membuat hujan buatan.

Sistem hipofisasi.
Langkah mutakhir buat memijahkan kodok yaitu dengan langkah sistem kawin suntik memakai ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok supaya kawin cocok waktu yang kita kehendaki. Dengan sistem ini kita dapat mengintensifkan pembenihan, kurangi kematian, merawat telur-telur kodok yang sudah dibuahi didalam area tersendiri, berikan jaminan bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma semuanya dan tidak membutuhkan hujan buatan. Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut dan bagian kepala. Langkah penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.

Reproduksi dan perkawinan.
Kodok yang akan disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air dan ditutup dengan kawat kasa buat memudahkan penangkapan. Kodok-kodok tersebut sudah cukup umur dan didalam kondisi masak telur. Waktu penyuntikan kodok dibalut dengan kain hapa supaya tidak meronta.

Kodok yang sudah disuntik lantas terlepas didalam akuarium lain dan dipantau tiap-tiap jam. sesudah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali supaya mereka dapat bertelur semuanya. Sesudah yang betina 2 kali disuntik dan tunjukkan akan bertelur, jadi kita menyiapkan testis dari induk jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan langkah memotongnya dengan jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang telah berisi air kolam yang bersih. Sesudah air didalam cawan jadi keruh dan testis telah kosong, jadi cairan testis dibiarkan sepanjang 10 menit didalam suhu ruangan. Bila sperma aktif (dapat kita tengok di bawah mikroskop), jadi kodok betina bertelur diurut perutnya supaya telurnya keluar. Telur diusahakan jatuh diatas cairan sperma, lantas digoyang-goyangkan dan biarlah sepanjang lebih dari satu menit. Telur yang alami pembuahan akan alami rotasi.

Telur lantas ditetaskan dan airnya diganti tiap-tiap hari dengan melindungi suhu pada kisaran 24-27 derajat c dan ph air juga diamati. Pada sistem dengan alamiah, dipakai hujan buatan untuk merangsang proses perkawinan kodok, sebagaimana diterangkan di atas.

Pemeliharaan.
Pemeliharaan dikerjakan pada tiap-tiap step perkembangan kodok, perkembangan dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan area tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali 1 hari, air di kolam diganti dan dibersihkan seminggu sekali.

Sanitasi dan tindakan preventif
Telur yang telah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum saat dipakai. Telur kudu dipisahkan dari induknya hingga telur tidak terganggu proses penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan sempat pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas sesudah 48–72 jam pada suhu air 24–27 derajat c. Apabila telah menetas dipelihara pada kolam yang sama sepanjang 10 hari.

Perawatan ternak.
Kodok muda yang sudah alami metamorphose diletakkan pada kolam permanen. Pemasukan dan pengeluaran air kudu diberi penyaring buat menghindari hama dan menghindar kodok lepas ke peraiaran umum. Padat penebaran 50-100 ekor/m². Apabila kita memelihara type kodok banteng yang tidak senang makanan yang tidak bergerak, makanan kudu ditempatkan di bawah aliran air/pancuran. Sesudah berusia 3 bln., kodok diseleksi menurut kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. jumlah yang di seleksi 20% dari total dan dipindahkan ke kolam calon induk, namun sisanya terus dipelihara sampai waktu panen pada umur 4-5 bln.. kodok dewasa (masak gonada) untuk bibit unggul, baik jantan ataupun betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sejumlah 1 dosis. Penyuntikan dikerjakan 1 bln. sekali (apabila menggunakan sistem hiphopisa) dan padat tanam sejumlah 20-25 ekor/m².

Pemberian pakan.
Ada beragam macam makanan yang bisa diberikan untuk kodok di kolam pembesaran persil ataupun di kolam pembesaran kodok remaja. Makanan percil sampai kodok dewasa berbentuk cincangan daging bekicot, cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan beragam benih ikan dan ketam-ketaman kecil dan yang lain. Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan kita dapat menyusun cocok dengan tingkat umur kodok, yang kadang-kadang sukar dikerjakan seandainya kita memberinya makanan yang segera didapat dari alam. Karena jadi masalah yang kerap dialami layaknya ukuran makanan semakin besar dari lebar bukaan mulut kodok tak perlu terjadi lagi.

Hama dan penyakit.

Penyakit, hama dan penyebabnya
Penyakit kodok biasanya dikarenakan oleh serangan jamur dan bakteri. Paha kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh yaitu penyakit yang menyerang kodok yang berusia 1-2 bln., menular dan menyerang sistem saraf, hingga akan mati didalam lebih dari satu jam.

Pencegahan serangan penyakit dan hama
Bakteri dapat menyerang kecebong, gejalanya ekor luka dan berwarna putih. Penanggulangannya memisahkan kecebong yang diserang, kolam dibersihkan dengan pk, dosis 0, 05 gram/ liter 15 hari sekali, janganlah berikan makanan yang kandungan proteinnya melebihi dosis 10–15% lantaran perut kodok akan jadi kembung. Penyembuhan dengan antibiotika streptomisin/tetrasiklin, obat luar dengan pemakaian betadine, atau direndam didalam nacl 0, 15 gram/liter air sepanjang 30 menit, diulang sampai 4 kali.

Pemberian vaksinasi dan obat
Penyembuhan kaki merah dan bisul pada kodok, memandikan kodok didalam larutan nifurene 50–100 gram/m² air, atau dengan suntikan teramisin 25 mg/kg, atau streptomycin 20 mg/kg berat kodok. Penyakit dubur keluar diobati dengan langkah pisahkan dan istirahatkan 2–3 hari dan tidak diberi makan. Penyakit yang lain yaitu dubur keluar (ambaien) pada percil (kodok muda). Buat mengatasinya, populasi tidak bisa sangat padat dan kolam kudu bersih dan pemberian kandungan kalori didalam makanan tidak bisa melebihi dosis 3400 cl/kg makanan.

Panen.

Hasil utama
Hasil utama yang dihasilkan yaitu dagingnya.

Hasil tambahan
Namun hasil tambahan yang bisa diperoleh yaitu mengolah limbah hasil pemotongan untuk jadikan silase ; dengan penambahan propionat dan asam formiat dengan jalur digiling berbarengan sama jadi makanan untuk ternak ini tahan sampai 2 bln. Pada suhu masih. Hasil sampingan yang lain yaitu dengan jadikan tepung, di mana kandungan mineral dan proteinnya masih cukup tinggi untuk jadikan bahan tambahan pakan ternak. kodok yang tidak dijual/afkir bisa diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan selanjutnya.

Penangkapan
Sebelum saat disiangi, umumnya kodok-kodok tersebut diletakkan pada penampungan. area penampungan kodok dapat berbentuk kotak kayu atau bak semen yang drainasenya lancar.

Pascapanen
Proses penanganan pasca panen juga amatlah gampang. Untuk melindungi supaya kodok terus hidup dan segar, jadi kita dapat memakai karung goni atau tas kain yang dibasahi. Pengangkutan sangat aman dikerjakan pada pagi hari atau sore hari. Seandainya pengangkutan dikerjakan untuk jarak jauh jadi butuh dibuatkan kotak kayu yang didesain dengan spesial, dan kapasitasnya sesuai dengan besarnya kotak kayu tersebut.

Sumber :
http://beternak.net/cara-beternak-katak-lembu ;!-- End: http:// / -->

Kamis, 03 Januari 2013

Menangguk Untung dari Budidaya Katak Lembu

Hujan buatan tampak mengguyur kawanan katak di dalam kolam-kolam berukuran 5 x 5 meter. Asal tahu saja, katak-katak tersebut bukanlah katak biasa. Kumpulan katak yang jumlahnya mencapai 30-an ekor tersebut lebih dikenal dengan katak lembu atau bullfrog. Katak jenis ini merupakan salah satu komoditi ekspor andalan. Jika pintar mengelolanya, seorang pengusaha katak bisa mendapatkan untung yang sangat lumayan.

Nah, Kurniawan yang merupakan salah satu pembudidaya katak lembu sudah membuktikan hal ini. Pegawai dinas pekerjaan umum Sragen ini sudah lima tahun nyambi sebagai pembudidaya bullfrog. Kurniawan melihat peluang budidaya bullfrog sangat baik karena termasuk komoditas yang masih jarang dengan pangsa pasar tertentu.

Meski demikian, untuk terjun ke dalam bisnis ini memang membutuhkan ketelatenan khusus. Kurniawan sendiri membudidayakan bullfrog di dalam 40 kolam. Dari kolam tersebut, rata-rata setiap bulannya Kurniawan mampu menjual sampai 1,5 kuintal bullfrog yang harganya saat ini mencapai Rp 44.000 rupiah perkilo. "Kalau musim kemarau seperti sekarang, harganya cukup mahal. Tapi harga stabilnya antara Rp 32.000 - 35.000 rupiah,” jelas Kurniawan.

Menurut Kurniawan, pasar bullfrog saat ini masih terbuka lebar. “Saya cukup kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang besar," jelasnya. Itu sebabnya, selain menjual produksi sendiri, ia juga menjadi pengepul dari daerah sekitarnya yang merupakan para pembudidaya skala kecil. Biasanya, para pengepul datang langsung dari Surabaya, Semarang dan Jakarta. Dengan demikian, dalam sebulan Kurniawan bisa menjual 2- 5 kuintal bullfrog.

Kurniawan sendiri pernah menjajal pangsa luar negeri. Akan tetapi ia merasa kesulitan untuk memenuhi kontinuitas produksi. Ia mengakui, harga untuk ekspor lebih mahal dengan kisaran 150 % - 200 % dari harga dalam negeri. "Dulu, dalam sehari, saya harus memenuhi 50 kg bullfrog. Itupun harus ukuran 1-1,5 kilo. Tapi saya keteteran, " katanya.

Sayang, Kurniawan tidak bisa memastikan berapa pengeluarannya untuk operasional. Yang pasti, pakan untuk bullfrog tidak terlalu mahal. " Bullfrog jenis bludru kami beri makan cacing sutera atau kutu air. Sedangkan precil biasanya diberi dedak, lalu yang besar kami beri konsentrat, jangkrik hidup atau belalang," paparnya.

Selain kurniawan, di kawasan Tangerang pun ada seorang lagi pembudidaya katak lembu bernama Anho. Anho bilang, katak lembu yang ia budidaya ditujukan khusus untuk memenuhi pasar Jakarta dan sekitarnya. Diprediksi, bulan November nanti Anho, akan memanen kurang lebih 1000 ekor katak lembu. Menurut Anho, biaya operasional pemeliharaan katak lembu paling banyak digunakan untuk pakan. "Saya memberi pakan lele, sebulan mungkin sekitar 1000 ekor atau 30 kilogram, " kata Anho.

Sumber :
http://industri.kontan.co.id/news/menangguk-untung-dari-budidaya-katak-lembu
4F" type="text/javascript">!-- End: http:// / -->

Rabu, 02 Januari 2013

Teknik Budidaya Kodok Lembu

Kandang Pemeliharaan

Kandang pemeliharaan untuk budidaya kodok lembu harus memiliki karakter dapat melindungi kodok lembu dari sinar matahari (ada atap) dan mampu mengalirkan air secara kontinyu dan membuang limbah budidaya secara sempurna.

Kontruksi kandang pemeliharaan pada umumnya adalah sebagai berikut.
1. Bentuknya persegi panjang (2m x 3m x 1m).
2. Jumlahnya tergantung kepada skala usahanya.
3. Kandang pemeliharaan terdiri dari beberapa bagian yaitu bak, pagar, dan atap.
4. Bagian bak dibuat dari tembok setinggi 10 – 30 cm dan dilengkapi dengan lantai yang licin agar kodok lembu tidak mudah lecet, untuk itu lantai harus di plester dan dibuat landai ke arah saluran lubang pengeluaran.
5. Pemasukan air melalui keran atau dengan paralon yang sudah dilubangi melewati kandang dengan diamater 4 – 6 mm atau lebih besar dari batang korek api. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengatur debit air yang masuk kedalam kandang. Keran-keran tersebut dihubungkan langsung ke bak penampungan air dengan paralon ukuran 3/4 inchi.
6. Bagian pembuangan air dibuat didasar kandang dan langsung dihubungkan dengan saluran pembuangan.
7. Tepi kandang diberi pagar (dari belahan bambu setinggi 70 – 90 cm) dan bagian atas ditutup dengan atap dari rumbia yang murah dan tidak menimbulkan fluktuasi suhu terlalu besar.
8. Lantai tempat ini diisi dengan air yang tingginya disesuaikan dengan besarnya kodok lembu yang dipelihara (2 – 4 cm).

Kesesuaian Lokasi
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam budidaya kodok lembu harus dilakukan pemilihan lokasi yang baik. Lokasi yang baik tersebut harus memenuhi SBR (Standar Biological Requirement) sehingga sesuai dengan sifat biologisnya. Selain syarat biologis juga harus memenuhi pertimbangan ekonomis dan sosial.

Secara teknis, lokasi budidaya kodok lembu harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut.
1. Dekat dengan sumber air, tetapi bukan merupakan daerah banjir dan bisa mengalirkan air dengan system gravitasi, sehingga menghemat biaya pompa.
2. Kualitas airnya baik secara berkesinambungan dan tidak tercemar oleh limbah industri dan logam berat.
3. Jauh dari keramaian dan suasana ribut.
4. Lebih bagus pada tempat yang teduh (terlindung oleh sinar matahari)

Parameter-parameter Kualitas Air yang Harus Diperhatikan dalam Budidaya Kodok Lembu (Boyd, 1982)
1. Suhu air 23,0 – 27,0 (oC)
2. PH 7 – 8
3. Oksigen 2 – 4 (ppm)
4. CO2 2,6 – 5,6
5. NH3 0,4 – 3,34 (mg/l)
6. Alkalinitas 50 – 500 (mg/l)

Selain persyaratan diatas, kualitas air juga harus memenuhi persyaratan lain, diantaranya adalah warna air, kekeruhan, dan sifat biologi. Warna air yang baik untuk pemeliharaan berudu adalah hijau cerah (banyak mengandung plankton akan tetapi cahaya masih bisa masuk kedalam perairan), sedangkan untuk kegiatan seperti pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan percil, dan pembesaran percil memerlukan perairan yang bersih. Kekeruhan yang yang disebabkan oleh partikel terkoloid dan tersuspensi dapat diukur dengan sechi disk,. Kekeruhan yang baik untuk kodok lembu adalah berkisar antara 20 – 40 cm, kecuali pemijahan dan penetasan air harus jernih (> 60 cm).

1. Air mengalir kontinu sepanjang tahun.
2. Jenis tanahnya baik dan tidak poros. Jenis tanah yang baik yaitu tanah terapan dengan kandungan liat 30 persen dan jenis tanah liat atau lempung berpasir dengan perbandingan 3 : 2, karena tanah ini mampu menahan bangunan dan massa air dalam jumlah besar.
3. Topografi tanah harus cocok untuk budidaya kodok lembu. Topografi yang cocok ada dua macam, yaitu lembah yang dasarnya mendatar di salah satu lerengnya dan lembah yang dasarnya mendatar di kedua lerengnya dengan kemiringan 1-3 persen. Lembah tersebut dilengkapi dengan sumber air di tengahnya, sehingga mudah dibuat kolam dan kandang dengan perairan secara peralel. Ketinggian tempat yang ideal untuk budidaya kodok lembu adalah 400 – 800 m dari permukaan laut.
4. Luas lahan yang tersedia harus sesuai dengan skala usaha.
5. Secara sosial lokasi budidaya kodok lembu harus memenuhi kriteria seperti berikut ini.
-- Dapat menjaga kelestarian lingkungan.
-- Menggunakan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya.
-- Dapat menciptakan lapangan kerja atau memakai tenaga kerja setempat.
-- Keamanan terjamin.
6. Di lain pihak secara ekonomis lokasi budidaya kodok lembu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
-- Dekat dengan daerah pemasaran atau pusat informasi pasar.
-- Tersedia prasarana jalan yang baik dan sarana angkutan yang memadai sehingga akan memudahkan dalam mengangkut sarana produksi dan hasil produksi.
-- Sarana produksi mudah didapat.
-- Sarana perhubungan seperti telpon dan lainnya tersedia dengan baik dan lancar.

Standar Proses Produksi

Untuk mencapai sasaran produksi yang direncanakan dalam satu siklus produksi yang dijalankan adalah atas dasar satuan perencanaan yang mengikuti pola sebagai berikut.

1. Persiapan kandang pemeliharaan (dua sampai lima hari).
2. Masa budidaya kodok lembu 120-150 hari.
3. Pergantian air dilakukan setiap hari dan kontinu (mengalir) melalui keran atau paralon yang sudah dilubangi.
4. Kebutuhan pakan harian adalah 2 – 4 persen bobot biomasa/hari dan komposisi perbandingan antara pakan alami dan buatan disesuaikan dengan umur pemeliharaan kodok lembu.
5. Dilakukan penyortiran (grading) dalam kurun waktu tertentu untuk menghindari terjadinya akibat dari perbedaan ukuran kanibalisme antar kodok lembu itu sendiri.
6. Kebutuhan pompa (jet pump) untuk memompa air diwaktu kekeringan.
7. Sasaran produksi yang dikaitkan dengan tingkat kelangsungan hidup kodok lembu, ukuran udang dan konversi pakan.

Tingkat kelangsungan hidup kodok lembu dengan pemeliharaan yang baik adalah berkisar antara 60- 70 persen, dengan konversi pakan sekitar dua. Dan target produksi adalah kodok lembu berukuran 200-250 g.

Sumber :
http://binaukm.com/2010/06/teknik-budidaya-kodok-lembu/ ;!-- End: http:// / -->

Peluang Usaha Budidaya Kodok / Katak Lembu

Salah satu komoditas perikanan yang memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan adalah kodok. Paha kodok merupakan sumber bahan pangan yang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan rasa yang enak, sehingga tak mengherankan jika permintaan kodok untuk konsumsi baik dalam negeri maupun luar negeri setiap tahunnya terus meningkat, sedangkan pasokannya terus menurun. Penurunan ekspor kodok tersebut terjadi karena berkurangnya stok kodok dari alam.

Pada tahun 1974-1978 Indonesia pernah menjadi pengekspor kodok ketiga terbesar setelah India dan Bangladesh, bahkan pada tahun 1979 menjadi pemasok kodok kedua terbesar ke negara-negara Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) yaitu sebesar 34 persen dari total impor negara-negara tersebut, sedikit dibawah India (38 persen) (Anonimous, 1990). Pada saat itu kodok yang diekspor merupakan hasil penangkapan dari alam, seperti sawah, danau, sungai, dan perairan lainnya. Tahun 1985 India melarang penangkapan kodok dari alam karena dapat merusak keseimbangan lingkungan demikian juga Bangladesh dan Indonesia. Menghadapi masalah tersebut, maka mulai berkembanglah usaha budidaya kodok, terutama kodok asli perairan Indonesia. Namun usaha-usaha itu tidak berhasil karena kodok-kodok tersebut sulit beradaptasi dengan lingkungan budidaya.

Pada tahun 1980 Indonesia mendatangkan jenis kodok asal Amerika Utara dari Taiwan yang disebut bullfrog. Kodok tersebut diberi nama kodok lembu di Indonesia karena suaranya yang seperti lembu. Kodok lembu (Rana catesbeiana) ternyata memiliki berbagai kelebihan jika dibandingkan beberapa kodok asli Indonesia. Kelebihan tersebut diantaranya mudah beradaptasi dengan lingkungan budidaya, ukurannya lebih besar, pertumbuhannya lebih cepat (dapat mencapai bobot 500-600 gram), tidak tergantung pada pakan alami atau dapt diberi pakan, dan kandungan gizinya lebih tinggi jika dibandingkan dengan kodok-kodok lain.

Kodok lembu memiliki kandungan protein sebesar 19,76 persen, lemak 0,63 persen, air 75,63 persen, dan abu 2,36 persen. Sementara jenis kodok konsumsi lainnya yang diekspor mengandung protein 15,23 persen, lemak 0,59 persen, air 80,59 persen, dan abu 3,38 persen (Anonimous, 1990). Kelebihan-kelebihan tersebut sangat memungkinkan kodok lembu dibudidayakan di Indonesia. Sejak saat itu, dimulailah budidaya kodok lembu yang dimulai dengan ujicoba yang dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Ujicoba tersebut dinilai cukup berhasil dan kemudian disebar luaskan ke daerah-daerah lain di tanah air.

Namun, jumlah masyarakat yang membudidayakannya masih sedikit dan teknologinya masih belum banyak dikuasai sehingga belum mampu meningkatkan produksi kodok untuk menggantikan kodok dari hasil tangkapan. Dengan demikian budidaya kodok lembu ini masih cukup potensial untuk berkembang. Berkembangnya budidaya kodok lembu ini diharapkan bisa meningkatkan produksi dalam negeri, menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan aktivitas usaha.

Sumber :
http://binaukm.com/2010/04/peluang-usaha-budidaya-kodok-katak-lembu/ ;!-- End: http:// / -->