Minggu, 28 Juli 2013

BUKAN OBAT YANG MENGHENTIKAN MEROKOK, TETAPI NIAT ANDA



Sekali lagi, bukan obat yang bisa menghentikan kebiasaan merokok, melainkan niat dan kesungguhan yang kuatlah yang terbukti mampu membuat orang menghentikan kebiasaan merokok.
Maka, jika anda memang berniat berhenti merokok jangan coba-coba menggunakan obat anti rokok, karena efek samping obat tersebut bisa lebih berbahaya ketimbang rokok itu sendiri.
Teman saya, yang pada mulanya seorang perokok cukup berat, mati-matian menghentikan kebiasaannya merokok dengan mengalihkan keinginan merokok menjadi ngemil atau jajan, atau makan makanan apa saja agar kepikiran akan rokok menjadi hilang. Dan dia berhasil, namun efeknya, berat badannya naik lebih dari sepuluh kilogram akibat makan berlebih.
Paparan berikut mungkin bisa jadi renungan untuk anda yang masih merokok, berniat berhenti merokok, atau anda tidak merokok tetapi ingin merokok – eee salah – maksudnya ingin menghentikan kebiasaan merokok teman anda.

Pandangan Terhadap Rokok

Kalau orang Indonesia menilai kecanduan merokok sebagai hal biasa, malah dianggap macho, tidak demikian halnya dengan orang negara maju seperti AS dan Eropa. Mereka menganggap merokok sebagai penyakit, dan karena itu harus dienyahkan sebagaimana layaknya penyakit lainnya. Karena itu pabrik farmasi berlomba-lomba menciptakan obat yang dapat menghentikan kecanduan merokok. Dengan harapan, kalau berhasil menemukan obat yang betul-betul manjur, milyaran dolar pasti masuk sebagai keuntungan pabrik Farmasi.
Harapan itu tampaknya nyaris menjadi kenyataan. Pada 10 Mei 2006, pabrik farmasi AS Pfizer bergembira karena FDA meloloskan obat anti merokok temuannya untuk diedarkan. Menurut Pfizer, tingkat keberhasilan penggunaan obat pada pencandu sekitar 44 prosen, jauh lebih tinggi dari obat anti merokok pabrik lain seperti Zyban. Beberapa bulan kemudian Chantix yang berisi varenicline tartrate marak dipasarkan di AS dan Uni Eropa dan puluhan negara lainnya. Di Indonesia Chantix juga dipasarkan Pfizer, tapi dengan nama dagang Champix (Varenicline).Obat ini kelihatannya gencar dipasarkan, tidak hanya melalui promosi ke kalangan dokter, tapi juga ke masyarakat lewat situs rancangan Pfizer: http://www.stopmerokok.com/

Berkat promosi yang gencar, Chantix laku keras di AS. Menurut majalah Fortune, hingga November 2007 sudah 4 juta warga AS diberi resep chantix untuk menghilangkan kebiasaan merokok. Di samping itu nilai penjualan chantix di seluruh dunia telah mencapai 883 milyar dolar untuk tahun 2007 dan telah digunakan 6,5 juta orang (New York Time, 22 Mei 2008) . Pfizer memperkirakan obat ini dalam beberapa tahun akan menjadi obat unggulan (blockbusters), tak ubahnya seperti viagra dan lipitor, yang selama ini telah memberikan keuntungan milyaran dolar kepada Pfizer. Dan yang penting, obat baru ini diharapkan dapat mengganti turunnya pendapatan dari penjualan Lipitor setelah habis masa patennya tak lama lagi. Di samping itu pasar chantix tak kalah
luas dari lipitor. Bukankah banyak sekali warga AS dan warga dunia yang sadar merokok amat berbahaya bagi kesehatan tetapi sangat sulit melepaskan diri dari ketagihan nikotin itu. Dan mereka mau membuang uang banyak agar lepas dari ketagihan nikotin.
Pada mulanya banyak harapan pada obat baru ini walau biaya pengobatan dengan chantix amat mahal, sekitar 500 US dolar untuk 1 seri pengobatan (165 tablet). Cara pakainya juga agak merepotkan. Untuk mengobati pecandu rokok, Chantix harus diminum selama 12 minggu. Tablet Chantix ditelan sekali sehari selama 3 hari, selanjutnya dua kali sehari. Jika setelah 1 seri pengobatan dijalani kebiasaan merokok tidak hilang juga, seri pengobatan yang 12 minggu itu diulang sekali lagi.

Bagaimana Chantix bekerja?

Bila kita merokok, nikotin akan diserap dan masuk ke dalam aliran darah dan selanjutnya menuju otak. Di otak terdapat reseptor tempat nikotin mendarat. Reseptor yang telah berisi nikotin akan mengirimkan pesan ke sisi lain otak untuk mengeluarkan zat kimia dopamin, yang selanjutnya memberikan rasa senang dan nyaman. Namun keadaan ini berlangsung dalam waktu singkat. Otak pecandu memerlukan suplai nikotin lagi agar dopamin kembali keluar untuk membuat tubuh nyaman. Dan hal ini dapat diatasi bila si pecandu menghisap rokok kembali. Bila perokok berat menelan Chantix, varenicline tartratenikotin dengan sigap mendahului menduduki reseptor nikotin sehingga kesempatan nikotin bersatu dengan reseptornya berkurang yang selanjutnya berimbas penurunan pengeluaran dopamin. Akibatnya tidak ada lagi perasaan nyaman setelah batang-batang rokok diisap.

Efek Samping Tak Kalah Berbahaya

Laris manis penjualan Chantix di Amerika Serikat mulai terhambat sejak FDA mengeluarkan data efek samping baru chantix yang cukup serius pada 2 Pebruari 2008.
Menurut FDA, setelah dipasarkan, diketemukan efek samping yang tadinya tidak begitu terpantau. Berdasarkan data yang terkumpul, banyak terjadi perubahan perasaan dan perilaku pengguna , yang dimanifestasikan sebagai perasaan cemas, nervous, perasaan depresi, serta hadirnya keinginan untuk bunuh diri pada pengguna chantix. Efek samping itu muncul tidak saja pada saat pengobatan berjalan, tapi juga pada saat pasien mulai menghentikan pengobatan. Menurut wartawan Judith Graham (Chicago Tribun, 18 Juni 2008), sampai Juni 2008, 40 orang telah bunuh diri dan 400 kasus ingin bunuh diri diduga keras berkaitan dengan pemakaian obat Chantix. Di antara korban adalah musisi Dallas yang terkenal, Carter Albrecht. Sebelumnya Carter dikenal santun. Namun setelah menggunakan Chantix, ia sering mengeluhkan banyaknya mimpi-mimpi halusinasi. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja ia melakukan kekerasan terhadap teman wanitanya – yang kemudian diakuinya bahwa tindakan tersebut dilakukan karena bingung – tidak lagi mengenal siapa dirinya. Malam selanjutnya Carter Albrecht ditembak mati tetangganya karena memasuki rumah tetangganya bak pengganas. Peristiwa ini terjadi pada September 2007. Karena takut efek samping ini membahayakan dunia penerbangan, Otoritas penerbangan Amerika, FAA (Federal Aviation Administration) pada 21 Mei 2008 melarang pilot dan petugas Air Traffic Control menggunakan Chantix untuk menghentikan kebiasaan merokok, mengingat efek samping gangguan mental yang telah diumumkan FDA. Rupanya mereka kuatir perubahan perilaku pilot dapat menimbulkan kecelakaan penerbangan yang fatal seandainya ada pilot bunuh diri kala menerbangkan pesawat. Hiruk pikuk efek samping penggunaan chantix ini rupanya menyenggol ranah politik pula. Ini lantaran diikut sertakannya ratusan prajurit Amerika Serikat yang yang menderita stress dan trauma sepulangnya dari Irak dan Afganistan pada program penghentian merokok menggunakan chantix. Bukan manfaat yang didapat, depresi merekapun semakin berat. Banyak kecaman dari anggota kongres AS kepada otoritas yang mengurus para veteran tersebut. Kok tega-teganya prajurit tersebut dijadikan kelinci percobaan dengan obat baru yang efek sampingnya akan lebih memperparah kondisi mental mereka.
Pada 1 April 2008 Badan POM Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan video berdurasi 2,5 menit. Pada video itu untuk pertama kalinya FDA mengakui adanya hubungan antara penggunaan obat anti merokok Chantix dengan timbulnya masalah neuropsikiatri hingga bunuh diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar